Sering Didengerin: Enak. Keseringan: Gila


Dalam sebuah sesi chatting nggak penting dengan salah satu orang paling nyentrik di jagad multiply, obrolan ngelantur sampe ke lagu.
“Gue jarang ngefans sama suatu band,” kata gue, “Paling suka satu atau dua lagu doang.”
“Lagu apapun kalo sering didengerin lama2 enak juga,” kata si nyentrik
“Huh. Belum pernah ngerasain denger lagu Dufan seminggu berturut-turut sih… Rasanya mau gila, tau nggak sih.”

Maka ingatan gue kembali melayang ke periode Oktober 1994… alias nyaris 15 tahun yang lalu. Waktu itu temen-temen seangkatan gue ngadain KBA (Karya Bakti Angkatan), sebuah kegiatan ‘nyaris’ wajib buat mahasiswa Psikologi UI tahun ke 3. Setiap tahun acaranya beda-beda, tergantung ide masing-masing angkatan. Angkatan gue memilih kegiatan “Pameran Tahapan Kehidupan Manusia”.

Konsepnya cukup unik sih. Waktu itu kami bikin ruang pameran memanjang seperti lorong, di mana arus pengunjung diatur sedemikian rupa sehingga berjalan searah dari pintu masuk menuju pintu keluar. Di sepanjang lorong itu dipajang benda-benda yang melambangkan tahap kehidupan manusia, mulai dari bayi, anak-anak, remaja, dewasa, sampe tua. Juga ada poster2 berisi penjelasan tentang masing2 tahapan kehidupan, misalnya konflik apa yang umum terjadi, apa kebutuhan utamanya, apa tugas-tugas yang harus dipenuhi, dll. Jadi sambil liat pameran, pengunjung juga bisa belajar sesuatu tentang psikologi.

Konsep pamerannya memang keren, dan pilihan tempatnya (awalnya) juga (nampak) keren: Dufan. Pamerannya kalo nggak salah cuma 3 hari, tapi tau sendiri mahasiswa, duit cekak, mana mungkin bayar tukang untuk ngerjain ini – itu. Maka hampir seluruh proses persiapan pameran dikerjain sendiri oleh para panitia, mulai dari motongin bambu buat pasang umbul2, manjat-manjat panggung buat masang backdrop, bongkar muat barang pameran, dan segala tetek-bengek lainnya. Padahal, untuk bikin pameran 3 hari, butuh tambahan masing2 1 hari untuk set-up dan 1 hari untuk bongkar, jadi totalnya 5 hari. Dan praktis selama 5 hari itu semua panitia nggak pulang ke rumah.

Awalnya sih seneng ya, bisa masuk Dufan gratis, cuci mata liat pengunjung lewat, nonton drum band… tapi setelah 24 jam pertama gue mulai merasakan teror itu:

“Ayo… ke Dunia Fantasi, dunia ajaib yang mempesona….”

Tau nggak sih, lagu itu mulai berkumandang mulai dari sekitar jam 9 pagi sampe nyaris jam 12 malem. Jadi jauh sebelum jam buka lagu itu udah disetel, mungkin untuk menyemangati para petugas kebersihan yang sibuk nyapu – ngepel ubin seluas ribuan meter persegi. Begitujuga setelah tutup, masih terus disetel sampe seluruh proses nyapu – ngepel selesai.

Bayangin: badan lengket karena jarang mandi, perut lapar, tangan sakit kebanyakan motong bambu, mulut asem pingin ngerokok tapi mau beli rokok di Dufan mahal, tidur di bangku keras sambil disembur angin dingin dari pantai dan dikerubuti nyamuk segede-gede kecoa, dan begitu mata melek terdengar:

“Ayo… ke Dunia Fantasi, dunia ajaib yang mempesona….”

…secara nonstop dari pagi sampe malem. It’s like hell, man.

Pertanyaan gue adalah, kenapa sih Dufan merasa perlu nyetel lagu yang syairnya mengajak orang datang ke Dufan KEPADA ORANG-ORANG YANG MEMANG UDAH ADA DI DUFAN? Ya ya ya, Dufan memang dunia ajaib – mempesona – hebat – lantainya sering dipel, but come on, I’m already here, dude. Kenapa nggak nyetel lagu yang syairnya lebih bermanfaat buat pengunjung, misalnya,

“Ayo… gandenglah anak Anda, nanti kalo hilang repot nyarinya…”

atau

“Hati-hatilah banyak copet, waspada jangan sampe kecopetan…”

atau

“Pilihlah taksi yang berargo, jangan mau pake tarif borongan…”

(keterangan: semua teks alternatif di atas bisa dinyanyikan dengan nada lagu Dufan secara pas. Silakan dicoba)

Percaya nggak percaya, seminggu setelah acaranya usai, kadang kalo lagi sendirian atau mau tidur kembali terngiang nada-nada gila itu…

“Ayo… ke Dunia Fantasi, dunia ajaib yang mempesona….”

Yang repot kalo lagi mau ujian:

“Hmmm… dalam kasus Oedipus Complex, anak mengalami ketakutan akan dikastrasi oleh pihak ayah… ayah… ayah… ay… ayo… ke Dunia Fantasi, dunia ajaib yang mempesona….”

Jadi Den, mungkin memang semua lagu kalo didengerin terus lama-lama enak. Tapi selewat dari itu, lama-lama bisa gila. Percaya deh.

gambar: lokasi bekas arena pameran angkatan gue dulu, di depan panggung maksima, sekarang udah jadi deretan toko makanan. Gue pinjem dari situs www.ancol.com

Iklan
Tinggalkan komentar

41 Komentar

  1. he he he, knapa gak di akrabin ajah lagu nya om…anggap ajah temen baek…temen baek juga kan kadang2 suka nyebelin..

    Suka

    Balas

Ada komentar?

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: