fear (of height) is no longer a factor…


Dari dulu gue benci sama segala macem kegiatan outdoor. Mulai dari camping, hiking, rafting, dan segala konco-konconya, gue anti. Selain itu, gue juga takut ketinggian. Dan nggak bisa berenang (walaupun seneng main air di kolam renang).

Itulah sebabnya gue nggak menyambut antusias waktu acara ‘watersports’ terselip sebagai salah satu agenda acara workshop tahunan di Bali minggu lalu. Pas hari H, saat seluruh peserta disuruh kumpul di lobby hotel untuk naik bis menuju Tanjung Benoa, gue titip pesen sama salah satu temen, “Gue nggak ikut, mau browsing aja di kamar. Bisnya suruh jalan aja, jangan tunggu gue.”

Abis itu gue beneran masuk kamar, nyalain laptop, dan mulai login ke MP. Eh, HP bunyi. Temen gue yang lain lagi nelepon.

“Gung! Ditungguin bis nih! Ikut?”
“Enggak! Udah jalan aja.”

Eh nggak lama kemudian bunyi lagi. Nama boss muncul di layar.

“Agung…”
“Ya mbak?”
“Agung nggak ikut ya?”
“Males mbak.”
“Agung, saya hari ini udah ngebatalin meeting dengan management supaya bisa sama-sama kalian semua. Masa Agung sendiri yang nggak ikut?”
“Huff…”
“Ikut ya? Nanti kalo di sana males main juga boleh kok…”
“Ya deh ya deh ikut ikut…!”

Kenapa sih orang-orang seneng banget main air di pantai, tempat aneka jenis bangkai terapung-apung, tempat mondar-mandirnya segala jenis binatang laut yang bisa nyengat, bisa nggigit, atau keduanya, tempat orang buang sampah, pipis, atau numpahin oli…?

Dengan bersungut-sungut gue ganti baju dan naik ke bis. Di bis si boss menyambut,

“Agung sebel ya?”
“Nggak, mbak. Males aja.”

Di Tanjung Benoa, kami langsung disodori list aneka kegiatan yang bisa dilakukan. Ada diving, flying fish, banana boat, parasailing.. nggak ada satupun yang menarik minat gue. Kalo Ida sih pingin banget main flying fish, sayang waktu terakhir kali kami ke Bali dia lagi hamil 2 bulan.

Gue liat-liat ke arah pantai, ada beberapa speedboat yang udah mulai jalan menyeret flying fish. Buat yang belum tau kayak apa permainan flying fish; bentuknya mirip perahu karet lebar yang ditarik oleh speedboat. Penumpangnya 2 orang, dalam posisi telentang. Kalo ditarik dengan kecepatan tinggi, si flying fish ini bisa ‘terbang’ sampe ketinggian 7 meter di atas permukaan laut! Bentuknya kurang lebih kaya gini nih:

flying fish bali
Bener-bener bukan kegiatan menarik buat gue yang takut ketinggian dan nggak bisa berenang ini. Tapi… pikir-pikir, kalo kata teori kan cara terbaik untuk mengalahkan rasa takut adalah dengan menghadapi sumber rasa takut itu, jadi…

“Ya udah, gue ikutan main flying fish deh!” kata gue ke mas-mas petugas.

Abis ngomong gitu sebenernya gue cukup deg-degan ngebayangin apa rasanya terbang setinggi 7 meter, tapi gue coba untuk nggak mikir ke sana.

Setelah nunggu 1 jam lebih, akhirnya gue dapet giliran naik flying fish bareng Anto si tukang sulap. Waktu kami naik, petugasnya bilang, “Waduh, penumpangnya besar-besar amat, mungkin terbangnya nggak tinggi ini…” FYI, berat gue 90 kilo dan Anto 85 kilo. Nampaknya bukan hari baik buat si flying fish yang malang.

Bener aja, pas speedboat mulai jalan, si flying fish kayaknya perlu ganti nama jadi ngesot fish karena dia lebih banyak keseret-seret di air ketimbang terbang. Tapi pada beberapa kesempatan dia lompat lumayan tinggi juga, sampe gue kehilangan orientasi mana atas dan mana bawah.

Cuma 15 menit, flying fish merapat lagi ke pantai dan gue pikir-pikir, “hey, ternyata nggak serem-serem amat. Mungkin gue perlu juga nih, nyoba parasailing…” Sama-sama ditarik speedboat, tapi kali ini kita ‘terbang’ pake parasut, dengan ketinggian 15-20 meter.

Sebelum sempet mikir kelamaan dan membatalkan niat, gue udah dipasangin harness, diiket ke parasut, dan disuruh lari ke arah laut. Tau2… hup, udah terbang aja.

Temen gue yang udah duluan dapet giliran bilang, “nanti di atas jangan lupa liat pemandangan, keren banget!” Ternyata prakteknya, gue harus setengah mati berusaha untuk nggak tutup mata. Gila ngeri banget, di atas gue sampe nggak ngenalin di mana titik gue berangkat tadi. Perjalanan muter 15 menit rasanya kayak 1 jam, tapi Alhamdulillah… akhirnya gue berhasil mendarat dengan selamat. Kalo mau liat tampang stress gue menjelang mendarat, ini fotonya:

mbot parasailing

Dengkul gue lemes, tangan gue sakit karena harus narik tali kemudi parasut yang ampun berat banget, tapi lega karena ternyata gue yang takut ketinggian ini berani juga terbang 20 meter. Seperti kata Joe Rogan kepada pemenang di setiap episode “Fear Factor” – “Fear is no longer a factor for you!”

“Gimana Agung, senang?” boss gue nanya.
“Lumayan sih mbak. Tapi kalo disuruh milih, saya tetep lebih seneng browsing di kamar…”

YANG PERLU DIPERHITUNGKAN SEBELUM MAIN FLYING FISH / PARASAILING DI INDONESIA

Setelah mengamati, nyoba langsung, dan wawancara dengan para petugas watersports di Tanjung Benoa Bali, gue menemukan beberapa faktor yang mungkin bisa menimbulkan kecelakaan fatal. Seperti biasa, di Indonesia faktor-faktor ini diabaikan dan kebetulan memang jarang terdengar ada kasus kecelakaan akibat watersports. Bukan bermaksud nakut-nakutin, tapi gue sarankan pertimbangkan dulu faktor-faktor berikut – jadi lo tau segala resiko yang mungkin terjadi.Flying FishDi setiap flying fish yang beroperasi, selain 2 penumpang juga ada seorang operator. Ternyata fungsinya adalah menjaga keseimbangan flying fish saat lagi ‘terbang’. Semakin tinggi terbangnya, semakin beresiko untuk terbalik dan jatuh ke permukaan air dengan posisi penumpang di bawah. FYI, jangan kira jatuh ke air itu enak. Semakin tinggi kecepatan dan semakin kecil sudut jatuh sebuah benda saat membentur air, permukaan airnya akan semakin keras. Ini menjelaskan kenapa di beberapa rekaman kecelakaan speedboat, speedboat yang celaka itu bisa terguling-guling dan terpantul-pantul di atas permukaan air – seperti lagi membentur lapisan beton. Pada beberapa kasus kecelakaan pesawat juga ditemukan pesawatnya pecah saat menabrak permukaan laut.

Dengan kata lain, nasib para penumpang flying fish tergantung sepenuhnya pada si operator – sedangkan saat naik kita nggak pernah tau seberapa tinggi tingkat kemahiran orang itu. Belum lagi faktor-faktor lainnya seperti kondisi kesehatan, konsentrasi, kelelahan akibat kejar setoran, dsb dsb. Operator yang membawa gue juga dengan entengnya cerita, “saya dulu waktu baru belajar bawa flying fish pernah jatuh pak, sampe muntah darah…”

Oh iya, satu lagi: saat naik flying fish, lo nggak dikasih pengaman apapun – termasuk safety belt. Jadi lo akan terbang 7 meter di atas permukaan laut hanya bermodalkan kekuatan tangan lo untuk pegangan ke tali. Ka
lo pegangan lo lepas atau talinya kendor, hmmm… bayangin aja sendiri.

Parasailing

Walaupun terbangnya lebih tinggi, sebenernya parasailing relatif lebih aman daripada flying fish, tapi tetep aja punya sederet resiko. Faktor alat keamanan, misalnya. Peserta nggak dilengkapi dengan helm atau pengaman lainnya. Pengaman lo hanya harness, itupun dipasang secara asal-asalan. Faktor angin juga bisa jadi sumber malapetaka – kalo mendadak berubah arah / kecepatan. Waktu mendarat, lo akan diarahkan menuju pantai – yang penuh dengan warung. Bayangin kalo saat itu tiba-tiba arah angin berubah, dan elo terseret angin menimpa atap-atap warung yang lancip itu. Atau sebaliknya, kalo elo mendarat di air, maka ada kemungkinan lo menginjak deretan karang bawah air. FYI, parasut bulat yang dipake untuk parasailing adalah jenis parasut yang relatif sulit buat dikendalikan, dibandingin sama parasut yang berbentuk persegi. Itulah sebabnya, di nomor ketepatan mendarat cabang olah raga terjun payung, nggak ada atlet yang make parasut bulat. Biasanya parasut bulat cuma dipake buat dropping pasukan perang.

Antisipasi resiko:

  • Sebisa mungkin cari operator watersports yang udah berpengalaman dan direkomendasikan oleh banyak orang.
  • Jangan memaksakan diri kalo badan lagi kurang fit. Walaupun keliatannya lucu, tapi flying fish dan parasailing butuh kekuatan tangan untuk pegangan / mengendalikan parasut.
  • Pastikan asuransi kesehatan lo mau membayar pengobatan akibat kecelakaan olah raga – karena dari pihak operator sama sekali nggak ada jaminan asuransi dalam bentuk apapun.
  • Untuk flying fish, usahakan cari partner penumpang yang bobotnya kurang lebih sama dengan elo, supaya flying fishnya lebih seimbang, nggak gampang terbalik.
  • Berdoa sebelum berangkat, dan jangan lupa pamit baik-baik pada orang tua.
Iklan
Tinggalkan komentar

27 Komentar

  1. terbalik dgn aku..Aku dulu takut liat orang paragliding di Puncak setiap pulang kampung ke Bandung. Pas kuliah ternyata ada organisasi pecinta alam yg aktif di Puncak. Ikutan jadi simpatisan PA kampus dgn motivasi: kalau yg lain bisa terbang, knapa gw ga? Demi blajar terbang gratis, arung jeram gratis, dan ilmu gratisan lainnya :P. larangan ibu diabaikan. Weekend ngabur mulu.Pertama terbang, ditandem samapai 4 x, besok2nya kursus berkelompok di kampus dan di senayan/sentul, cuma patungan bayar uang pinjem canopy dan makan instruktur. Ga lama terbang sendiri di Puncak. Takut? Heran, nggak tuh saat itu.No fear, only fun n enjoy, adrenalinnya kepompa. Eh, pas udah kawin ama pria kantoran, dia bilang no way darling, no more katanya..Yasud, nurut deh..Anehnya, lama2 pas udah punya anak, aku sendiri jadi parno terbang (masa naik cable car di Sin or Genting mau nangis…apalagi naik pesawat, jd takut bgt…aneh kan), sindrom apa ya namanya…

    Suka

    Balas
  2. serasa punya temen senasib….saya baru berani terjun dari jembatan sesudah 4x rafting…hehehemotivasi: lapar melihat yang lain ongkang2 kaki sambil makan lontong oncom…..*jadi lapar lagiii*

    Suka

    Balas
  3. “Gimana Agung, senang?” boss gue nanya. “Lumayan sih mbak. Tapi kalo disuruh milih, saya tetep lebih seneng browsing di kamar…”tapi seru kaan parasailing nyaaa..

    Suka

    Balas
  4. heheheh..stressnya keliatan..

    Suka

    Balas
  5. HELLO MAS AGUNG…LAMA AKU GAK ONLINE NEH… TQ FOR SHARING, ASYIK BGT YACH,CUMA AKU GAK ADA NYALI!!!

    Suka

    Balas
  6. pgn nyoba yg parasailing itu, tapi setelah baca resikonya malah jadi jiper. eh itu yg flying fish orangnya berdiri di mananya sih? bingung gw, hmmm

    Suka

    Balas
  7. mbot said: saya tetep lebih seneng browsing di kamar…

    sama kita 😀

    Suka

    Balas

Ada komentar?

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: