[being nice for dummies] #0010: surprisingly gentleman


Di kalangan temen-temen sekantornya, Alfian (nama fiktif tapi orangnya betulan) bukan sosok yang terlalu ‘populer’.

Kalo ditanya kenapa, mungkin setiap orang bisa mengajukan alasan yang berbeda. Ada yang sebel sama kebiasaannya nyetel lagu dangdut techno dengan volume pol di jam kerja. Ada yang nuduh dia haus pengakuan karena kalo lagi teleponan sama boss / orang penting lainnya suaranya bisa kedengeran sampe ke ujung ruangan. Ada yang diam-diam dongkol karena tanpa rasa sungkan setitikpun Alfian sering membanggakan prestasi kerjanya. Ada yang merasa dia gabungan dari semua atribut tersebut di atas karena karena kalo baca e-mail suka tiba-tiba teriak, “Holy Sh!t – mother F***ER!! Masa achievement gue yang tertinggi lagi di periode ini. KE MANA AJA YANG LAINNYA NIH, TIDUR??!!” – tentunya setelah mengecilkan sedikit volume dangdut technonya – untuk memastikan agar semua orang denger.

Tapi ternyata, di mata Indri (juga nama fiktif) Alfian adalah sosok yang berbeda.

Semuanya berawal waktu Indri dan timnya, termasuk Alfian, disuruh lembur oleh boss karena ada tugas urgent yang harus selesai malam itu juga. Satu tim kerja mati-matian, tapi sayangnya kerjaan baru selesai menjelang jam 12 malam.

Dasar sial si Indri, dia kebagian tugas merekap semua hasil kerja timnya, sehingga saat satu per satu rekan-rekan satu timnya beranjak pulang, dia malah baru mulai ribet di depan komputer. Yang tersisa cuma Alfian, nampak asik mendengarkan lagu-lagu dangdut techno kesukaannya.

Heran karena ngeliat Alfian masih terus bercokol, akhirnya Indri nanya, “Alfian, kok nggak pulang-pulang sih? Bagian lo kan udah beres?”
Indri surprise mendengar jawaban Alfian – yang diucapkan dengan nada kerasnya yang mirip orang membentak, “Ya nungguin elu selesai, lah! Ngapain lagi?”

Ternyata bukan cuma nungguin, tapi Alfian mengantar Indri sampai ke depan pagar rumahnya.
Padahal Indri udah menolak dengan, “Nggak usah sampe depan pager, gue turun di depan gang aja…”
“Kalo jam segini gue nganterin anak orang pulang, gue harus pastiin dia aman sampe rumah – sebab kalo ada apa-apa ntar gue yang harus tanggung jawab sama orang tuanya!”

Mengenang kejadian itu, Indri lantas mengambil sikap, “Sejak itu, kalo ada orang ngejelek-jelekin dia, gue nggak pernah ikutan nimbrung – karena di balik penampilannya yang ‘kayak begitu itulah’ ternyata dia berhati baik dan menghargai wanita.”


note:

buat yang berprasangka bahwa Alfian berbaik hati kepada Indri karena ‘ada maunya’, sampe hari ini mereka tetep temen biasa aja – malah udah jarang berinteraksi karena udah beda lokasi kerja. Alfian sendiri udah berkeluarga, punya anak istri dan umurnya terpaut cukup jauh dengan Indri.

gambar gue impor dari picturequest.com

Iklan
Tinggalkan komentar

32 Komentar

  1. permisi mas agung.numpang baca blog nya.salam

    Suka

    Balas
  2. sebenernya si alfian itu naksir indri…tapi karena udah punya “buntut” apa daya??

    Suka

    Balas
  3. Sifat manusia kan berbeda-beda, kadang sejaht jahatnya manusia , tokh teuteup dia punya hati nurani…..eh kalo musik dangdut techno gitu, donlotnya dimana ya mas agung???? xixixi

    Suka

    Balas
  4. rauffy said: kadang hal sepele buat orang lain, tetapi bisa merubah cara pandang orang 😀

    ya betul. si alfiannya sendiri kayaknya nggak sadar bahwa perbuatannya bikin indri terkesan…

    Suka

    Balas
  5. ciput said: not so perfect, but real gentleman 😀

    nobody’s perfect 🙂

    Suka

    Balas
  6. livingarief said: nah bgitu harusnya laki.

    tentunya yang dimaksud bukan kebiasaan nyetel dangdut techno kenceng2 di jam kerja kan 🙂

    Suka

    Balas
  7. hehehe, lucu juga, tapi emang ada sbagian orang yg merasa “penting” koq – the center.”hey… i’m the MAN!” gitu.

    Suka

    Balas
  8. uhuhuhu.. baik bangeett..!

    Suka

    Balas
  9. yupz!jangan ngelihat sisi yg biasanya terlihat dari seseorang,ada juga kan yang diem2 tapi murderer*kayak di pilem2*

    Suka

    Balas
  10. so sweet…

    Suka

    Balas
  11. mungkin itu satu2nya cara berperilaku baik yang dia tau..paling gak dah ada dasarnya toh?…dia ‘cuma’ harus membenahi cara berperilaku di kantor/ ke rekan kerja lain…:D

    Suka

    Balas
  12. techno dangdut = dangdut pantura = dangdut glodok

    Suka

    Balas

Ada komentar?

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: