Formule 1 Hotel, Menteng, Jakarta


Gue lupa kapan tepatnya hotel ini mulai beroperasi, yang jelas umurnya baru beberapa bulan. Menurut salah seorang temen yang kerjanya di holding company pemilik hotel ini, Hotel Formule 1 memang membidik pasar kaum muda yang ramai nongkrong malem2 di Menteng.

“Lo bayangin dong gung, orang segitu banyak nongkrong di Menteng, mungkin ada yang kenal2an, trus mau ‘lanjut’, tapi nggak ada ‘tempat’ deket situ, kan repot… masa mau di rumput. Makanya kita provide lah, hotel yang yah istilahnya ‘harga mahasiswa’ gitu lah…” kata sumber gue tersebut.

Nggak tau ya apakah yang dia omongin itu memang bener strategi perusahaannya atau bisa2nya dia aja menganalisa, tapi yang jelas room rate hotel ini memang luar biasa ‘ekonomis’, maksud gue untuk ukuran hotel yang berada di pusat keramaian seperti Menteng. Semua kamar dijual sama rata 239 ribu net (harga Oktober 06).

“Lo boleh cek gung, hotel2 transit umumnya pasang rate 250 ribu untuk short time (6 jam), malah ada yang lebih mahal. Tapi di hotel gue, rate lebih murah untuk 24 jam. Kebersihan dijamin. Lokasi strategis. Mau parkir ngumpet? Ada parkir basement!”

Ngeliat tampilan luarnya, gue memang tertarik sih nyobain hotel itu. Abis warnanya lucu, kuning dengan kotak-kotak hitam kaya taksi cab di New York (padahal cuma sering liat di film :-p). Gue emang pernah ngomong sama Ida, “kapan2 nyobain nginep di hotel itu yuk…!” tapi setelah dipikir2, ngapain juga nginep di hotel yang jaraknya cuma beberapa ratus meter dari rumah? Taunya kesempatan nyoba hotel ini datang gara2 Palyja resek itu mematikan air di rumah gue.

Kesan efisien memang terasa banget sejak langkah pertama memasuki gedung hotel ini. Seperti kata “sumber” gue yang tadi, hotel ini nggak punya department F&B (makanya bagian bawah hotel penuh dengan toko makanan – kalo butuh makanan beli aja di bawah), juga nggak ada room service apalagi bell boy. Resepsionis juga cuma seorang, itupun kadang nggak di tempat. Pas ada tamu dateng, resepsionisnya dipanggilin dulu dari belakang.

Kamarnya sangat minimalis, dengan sentuhan yang sangat “hotel transit sekali” adalah pesawat televisi yang digantung di langit-langit 🙂 Nggak ada air panas di kamar mandi, nggak ada welcome drink, complimentary drink di kamar adalah aqua botol keciiiil, dan yang paling kocak adalah viewnya. Jangan banyak cingcong nanya “viewnya pool atau beach” kaya di hotel Aston Bali, lha wong pas buka jendela kamar pemandangannya adalah.. tangga besi.. hehehehe..

Tapi secara keseluruhan, dibandingkan dengan hotel lain yang room ratenya sebanding, hotel ini cukup ‘memuaskan’… apalagi bagi sepasang suami istri yang sekedar butuh tempat numpang mandi. Faktor lokasi strategis, dan yang istimewa: keamanannya juga cukup diperhatikan. Liftnya dilengkapi dengan pengaman kunci kamar ala hotel bintang 4 (walaupun lifnya lift barang! hihihi…), demikian juga dengan pintu akses menuju deretan kamar. Artinya, orang yang bukan tamu nggak bisa selonongan masuk hotel ini.

Secara keseluruhan, dibandingkan dengan hotel lain yang setaraf, gue kasih 4 bintang deh! Lima bintang kalo ada air panas di kamar dan channel tivinya nggak banyak yang kresek2.

Foto-foto lengkap tentang hotel ini bisa diklik di album yang ini.

Iklan
Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

21 Komentar

  1. correction : ada kok air panas nya, cek ke hotel langsung

    Suka

    Balas

Ada komentar?

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: