Warung Sate Shinta


Setelah sebelumnya dihuni oleh resto “Bawang Merah” yang “heboh” itu (baca reviewnya di sini, lo akan ngerti apa yang gue maksud dengan “heboh”), sepetak tanah di seberang gedung Pusda’i kembali berganti penghuni. Hm.. kenapa ya di lokasi yang sepintas keliatan strategis ini justru banyak usaha yang gagal?

Penghuni baru di sini bernama “Warung Sate Shinta” (selanjutnya gue tulis WSS). Konon sih resto ini cabang dari Cipanas Puncak, cuma berhubung gue jarang main ke puncak gue nggak tau juga seberapa ngetop dia di sana.

Sesuai namanya, tentu aja menu andalan di sini adalah sate. Ada 3 jenis sate yang ditawarkan, yaitu ayam sapi dan kambing. Gue coba yang ayam dan kambing.

Ciri khas yang langsung terasa dari sajian sate mereka adalah aroma kari di bumbunya. Sate memang salah satu hidangan yang lumayan susah untuk dimodifikasi tanpa melenceng dari ‘pakem’ – dan menurut gue yang dilakukan oleh WSS cukup berhasil. Ukuran satenya juga pas, dan dibandingkan dengan Sate Has Senayan (d/h Satay House Senayan), satenya WSS lebih terasa ‘asli’ dan ‘pinggir jalan’ walaupun disajikan di atas hotplate.

Selain sate, buku menu WSS juga memuat aneka pilihan hidangan mulai dari sup asparagus, karedok, hingga steak. Gue cobain soup unik yaitu campuran antara sup asparagus dan sup ayam. Waktu terhidang, kedua jenis sup itu berdampingan tanpa bercampur dalam satu mangkok. penampilannya jadi unik, belang putih – hijau di dalam mangkok. Gimana cara nuangnya ke situ ya?

Urusan penampilan kayaknya cukup mendapat perhatian di sini. Mulai dari tuangan kecap di atas saos kacang yang cukup ‘artistik’, hingga bentuk cetakan nasi putih yang mirip tumpeng mini. Lucu juga.

Faktor minus yang menghalangi gue untuk ngasih 5 bintang ke resto ini adalah jumlah laler yang masih tetep aja segambreng seperti waktu jamannya “Bawang Merah” dulu (emang kenapa sih dengan lampu2 penangkap laler itu? udah nggak ngetrend atau gimana?) dan waktu tunggu yang relatif lama – sekalipun gue berkunjung bukan di jam sibuk.

Iklan
Tinggalkan komentar

9 Komentar

  1. kampung daun harganya ga nahan bo’emang di situ casualitiesnya brapa(kok kayak perang yah)

    Suka

    Balas
  2. naha nya meni ganti² wae kaya ygresto chippes,dulu kan sblmnya apa gitu sblmnya laginu serba 5000 tea ningan,disebelahnya toga mas dan sekitarnya puluhan hotel bersaing..aneh..bandung..bandung…kayanya yg da best emg kampung daun bouww…!

    Suka

    Balas
  3. di Puncak ada 3 WSS Gung…gue baru nyoba WSS-2 aja… yang lain kurang oke tempatnya… :p

    Suka

    Balas
  4. Shinta yang di Puncak style nya warung biasa, tapi emang kualitasnya cukup oke. Di lokasi aslinya itu, mereka juga punya unggulan menu lain gung; Sate Torpedo =)

    Suka

    Balas
  5. Enak banget tuh sate kambing dan sate ayamnya…. jadi kepengen coba euy.

    Suka

    Balas
  6. kok ga ada poto lalernya? lagi sibuk ya mas, jadi ga sempat moto lalernya? hi hi hi

    Suka

    Balas
  7. ada banyak laler ? laler beneran Gung?

    Suka

    Balas
  8. Tar kalo balik trus maen ke Bandung cobain ah.. kali aja msh buka 😉

    Suka

    Balas
  1. Bawang Merah | (new) Mbot's HQ

Ada komentar?

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: