Bawang Merah


***
UPDATE:
Resto ini udah bubar jalan, digantikan dengan resto Warung Sate Shinta yang reviewnya bisa diklik di sini.
***

Hati-hati kalo sukses jualan di Bandung. Kalo elo memulai usaha dengan sebuah ide orisinal, maka dalam waktu singkat akan bermunculan para peniru. Sedemikian banyaknya sehingga di kota sekecil Bandung resikonya adalah bunuh diri massal.

Contoh klasiknya adalah jualan jeans di Cihampelas. Di sana pasar jeans udah sedemikian jenuhnya sehingga lo dateng kapanpun, bulan apapun, selalu lagi “clearance sale 70%”. Toh tetep aja toko-toko jeans di sana sepi pengunjung. Jalan Cihampelasnya sih tetep aja macet, tapi orang-orangnya pada numplek di Ciwalk – untuk ngopi, bukan untuk beli jeans.

Kasus yang sama terjadi pada FO. Bisnis FO keliatan sukses, lantas tiap minggu muncul FO baru. Di jalan Otten bahkan sempet ada FO sampe 5 biji – yang sekarang udah bubar semuanya.


Ucapan selamat datang yang (mencoba keras untuk tampil) unik dan komunikatif

Trend terbaru yang kayaknya lagi hangat di kalangan para pengusaha latah di Bandung adalah resto self-service yang menyajikan masakan Sunda. Yang pertama melejit adalah resto ‘Bumbu Desa’ – sekarang udah punya 2 outlet karena outlet pertamanya bikin macet lalu lintas saking ramenya. Yah, mungkin dia bukan yang pertama banget sih, karena sebelumnya udah ada resto ‘Ampera’. Tapi yang pertama kali mengemas tampilannya dalam bentuk yang ‘modern’ dengan logo yang funky ya si ‘Bumbu Desa’ ini. FYI, Bumbu Desa memajang logo dengan font imut-imut dan gambar cabe merah bulet terselip di tengahnya. Nggak lama kemudian, muncullah ‘Dapur Cobek’ di jalan Sulanjana. Gue dan Ida pernah ke sana sekali, dan menemukan bahwa jumlah waiternya 2 kali lipat lebih banyak dari jumlah pengunjung. Rupanya orang masih tetep memilih pergi ke ‘Bumbu Desa’, sekalipun logo ‘Dapur Cobek’ bergambar cobek kartun di tengah logonya. Walaupun begitu, rupanya kondisi memprihatinkan si ‘Dapur Cobek’ belum membuat gentar para pengikut karena baru-baru ini buka sebuah resto bernama ‘Bawang Merah’. Dan ini pengalaman gue, Ida, dan seluruh keluarga Ida makan di sana di sebuah hari Minggu yang cerah.


Galau menerima order

Resto ini menempati sebuah sudut strategis di jalan Diponegoro – berseberangan dengan Pusdai, gedung resepsi paling top di Bandung dan di tengah rute populer menuju Dago. Bangunannya adalah sebuah bangunan tua peninggalan jaman kolonial Belanda, memperkuat atmosfir ‘tempo doeloe’ yang makin terasa berkat kehadiran para waiter berbaju koko dan waitress berkebaya putih. Mencoba sedikit berbeda dengan ‘Bumbu Desa’ maupun ‘Dapur Cobek’, ‘Bawang Merah’ menawarkan beberapa item menu yang dibuat berdasarkan pesanan – di luar menu2 yang bisa langsung dicomot. Kemarin itu gue pesen ayam pengasepan or something, pokoknya deskripsi dari mbak waitress itu adalah ayam yang diasep terus digoreng. Sounds delicious. Ida pesen ikan nila bakar. Selebihnya, lalapan dan sambel nyomot dari deretan menu self-service.

Suasana Indonesia di jaman kolonial makin terasa setelah order disampaikan, karena kemudian para waiter dan waitress saling berlarian panik seperti lagi dikejar Belanda. Kalo gue perhatiin, urutan pengelolaan ordernya adalah sebagai berikut:

  1. Pengunjung melambai memanggil waiter / waitress.
  2. Waiter / waitress sedang sibuk melayani pengunjung lain.
  3. Pengunjung memanggil lagi dengan tampang bete.
  4. Mbak-mbak dari balik meja kasir turut melambai dan meneriakkan beberapa komando kepada para waiter / waitress di tengah medan laga.
  5. Mendengar teriakan dari balik meja kasir, beberapa waiter / waitress berdatangan menuju meja pengunjung yang tadi manggil.
  6. Para waiter / waitress yang tadi sedang menuju meja pengunjung saling menyadari bahwa untuk melayani pengunjung hanya diperlukan satu waiter / waitress, maka sebagian besar dari mereka balik badan – urung mendatangi meja pengunjung.
  7. Melihat rekan-rekannya pada balik badan, seorang waiter / waitress yang tersisa ikut-ikutan balik badan.
  8. Pengunjung yang belum juga mendapat pelayanan terus melambai dengan wajah yang semakin bete.
  9. Mbak-mbak di meja kasir berteriak lagi, kali ini menujuk salah seorang waiter / waitress secara spesifik.
  10. Waiter / waitress yang dipanggil secara spesifik mendatangi meja pengunjung dan menerima order.
  11. Order dibawa ke balik meja kasir, diterima oleh seorang waiter / waitress lain.
  12. Waiter / waitress di balik meja kasir menuju lobang di dinding yang menghubungkan dunia luar dengan tempat penyekapan bernama dapur.
  13. Tunggu 20 menit.
  14. Pengunjung yang tadi melambai lagi dengan maksud menanyakan pesanannya.
  15. Ulangi langkah 2 – 10.
  16. Waiter / waitress yang menerima ulangan order menuju lobang di dinding dengan wajah panik.
  17. Melihat rekannya mendatangi lobang di dinding dengan wajah panik, beberapa waiter / waitress lainnya turut mengiringi sebagai pertanda simpati.
  18. Beberapa waiter / waitress bergerombol di depan lobang di dinding.
  19. Mbak-mbak di balik meja kasir berteriak lagi untuk membubarkan gerombolan di depan meja kasir.
  20. Tunggu 10 menit.
  21. Muncul seorang bapak berwajah Arab, nampak jauh lebih ‘senior’ daripada para waiter / waitress, tidak berseragam, mengantarkan pesanan.

Deretan tudung saji berisi lalat

Man, suasananya bener-bener ‘galau’ abis. Waiter / waitress berlarian ke sana kemari, saling bertabrakan dan bersikutan, tumpang tindih melayani pesanan. Nanti kalau suasana galau udah semakin memuncak, tiba-tiba terdengar =PRANGGG…!!= pesanan tumpah berantakan dari baki. Belum lagi ditingkahi dengan serbuan lalat yang segede-gede tawon. Yang menarik, pilihan menu self-service semuanya ditutup dengan tudung saji. Tadinya gue kira untuk mencegah lalat masuk. Setelah gue liat dari dekat, ternyata di dalamnya justru terdapat sejumlah lalat yang terperangkap nggak bisa keluar. Mungkin itu hukuman dari managemen resto Bawang Merah bagi lalat-lalat nakal yang telah mengganggu pengunjung.


Kucing turut menyambut tamu

Nggak cukup dengan lalat, muncul seekor kucing besaaar… berwarna oranye-kuning. Ih sumpe deh tuh kucing gede banget. Kucing mondar-mandir memberikan kata sambutan kepada para pengunjung – tentunya dalam bahasa kucing – dan setelah pesanan datang turut duduk di sebelah pengunjung dengan cakar menggapai-gapai menu di atas meja. Bila tidak sibuk menemani pengunjung makan, kucing melakukan inspeksi dengan mondar-mandir di bawah meja sambil mengangkat buntutnya yang panjang dan keras itu tinggi-tinggi – bikin sejumlah pengunjung terpekik kaget saat kakinya tertabrak buntut. Pokoknya, buat yang lagi bosen dengan kehidupan rut
in, resto ini menyuguhkan banyak kejutan untuk kembali menggairahkan hidup.

Saat pesanan keluar, yah… ayam asepnya lumayan lah. Sambelnya juga. Berhubung gue nggak doyan ikan jadi gak tau rasa ikan bakarnya. Tapi keliatannya semua pada doyan. Minimal 3 bintang lah untuk rasa makanan. Saat makanan baru setengah termakan, ibunya Ida langsung memanggil waiter, minta bon. Ida heran, “Kok minta bon sekarang?” Ibunya menjawab, “Liat aja tuh meja sebelah, dari tadi minta bon nggak keluar-keluar. Udah setengah jam lebih. Daripada nanti ketinggalan Cititrans, kan mending minta bon dari sekarang.” Sebuah pengamatan antisipatif yang sangat cermat karena memang betul, bon baru keluar 35 menit kemudian. Prosedurnya mirip dengan prosedur menerima pesanan. Dan buat yang makan di sana rame-rame, cek sekali lagi bonnya. Sebuah milkshake coklat yang sempat dipesan tapi nggak keluar karena stok habis tetap muncul di bon.


PRANGGGGG…!!!

Hati yang galau sedikit terobati saat muncul seorang bapak berdasi, menanyakan kesan dan pesan kami mengenai pengalaman makan siang di resto ‘Bawang Merah’. Gue sampaikan saran perbaikan agar resto membeli lampu anti lalat yang banyaaaak… dan memperbaiki urutan penanganan order. Kalo perlu menu berdasarkan pesanan dihilangkan aja, jadi semua pesanan menggunakan sistem self-service.

Selesai makan, semua beranjak pulang untuk mengantar gue dan Ida ke pangkalan Cititrans. Baru beberapa langkah meninggalkan meja, terdengar lagi… =PRANGGG…!!=

Galau abis man, galau abis…

Note: Klik pada foto kalo mau liat lebih jelas.

Iklan
Tinggalkan komentar

50 Komentar

  1. hahaha disitu emg suck bgt! secara dulu bimbel cuman 5 langkah dari situ,mending msh jadi tetep tempat mangkal hardrock aja klo gini ceritanya mah…ga usah renov²an..

    Suka

    Balas
  2. jadi dah tutup toh? kalo gitu bisa jadi suasana sehari2nya emang gak beda jauh dari pengalaman elo dulu gung…

    Suka

    Balas
  3. :)) liat dari tudung sajinya yg tumpang tindih dah berasa suasana chaos nya Gung. Itu urutan order kalo dibuat flowchart lebih heboh kali :))

    Suka

    Balas
  4. bakat jd reviewer…huhhh tob:)

    Suka

    Balas
  5. Kok aku kelewat baca yg ini ya 🙂 Serasa membaca Pak Bondan, tapi versi kocaknya 😀

    Suka

    Balas
  6. meligro said: hii kapan donk mampir bumbu desa????

    bumbu desa udah pernah, ida malah udah 2 kali, ketemuan sama MPers Bandung. Nih fotonya. kenapa, kenal sama pemiliknya? 🙂

    Suka

    Balas
  7. hii kapan donk mampir bumbu desa????

    Suka

    Balas
  8. srisariningdiyah said: *menerawang… malam tadi gagal ke Gandy… gara2 rapat pindah ke Depok…*

    janji janjiii… tinggal janjiiii…*nyanyi lagi*

    Suka

    Balas
  9. mbot said: buku buku…

    *menerawang… malam tadi gagal ke Gandy… gara2 rapat pindah ke Depok…*

    Suka

    Balas
  1. Warung Sate Shinta | (new) Mbot's HQ

Ada komentar?

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

  • Komentar Terbaru

    Feni Febrianti di siapa yang sering kesetrum sep…
    mbot di My Wonder Woman
    bayutrie di My Wonder Woman
    mbot di My Wonder Woman
    p3n1 di My Wonder Woman
    mbot di My Wonder Woman
    enkoos di My Wonder Woman
    Rafi: manggung lagi,… di demi anak naik panggung…
    mbot di My Wonder Woman
    Johana Elizabeth di My Wonder Woman
  • Terfavorit

  • Terbanyak diklik

  • Masukin email lu di sini agar dapat notifikasi tiap kali ada tulisan baru

    Bergabunglah dengan 6.577 pengikut lainnya

  • Twitnya @mbot

  • Agung ‘si mbot’ Nugroho

  • Arsip

  • Penunggu blog ini

    mbot

    mbot

    Seorang pegawai biasa-biasa aja

    Tautan-tautan Pribadi

    Layanan Terverifikasi

    Tampilkan Profil Lengkap →

  • RSS Nonton Deh!

    • Hal yang Perlu Disiapin Sebelum Nonton "A Quiet Place" 15 April 2018
      Buat yang belum tau, "A Quiet Place" menceritakan kehidupan sebuah keluarga dengan 3 anak yang hidupnya sama sekali nggak boleh berisik, karena kalo bersuara dikit aja bisa diserang oleh 'sesuatu' (no spoiler ahead).Tentunya ini sedikit menimbulkan pertanyaan bagi gue, lantas gimana kalo mereka eek. Mungkin suara ngedennya bisa diredam, s […]
    • Benarkah Pacific Rim Uprising Jelek? 25 Maret 2018
      Soal keputusan untuk nonton atau nggak nonton sebuah film kadang cukup pelik. Di satu sisi, inginnya nonton semua film yang rilis. Di sisi lain, tiket bioskop deket rumah sekarang udah mencapai 60 ribu (harga weekend). Belum termasuk pop corn yang ukuran mediumnya 50 ribu dan air putih di botol 330 ml seharga 10 ribu*. Artinya: filmnya harus beneran dipilih […]
    • Review: Designated Survivor (Serial TV 2016) 15 Maret 2018
      Semua berawal gara-gara Netflix.Di suatu hari yang selo, nyalain Netflix tanpa tau mau nonton apa, tiba-tiba trailer film ini muncul.Ida langsung tertarik. "Nonton ini aja, suami. Istri seneng nonton film yang gini-gini," katanya, tanpa keterangan yang lebih operasional mengenai batasan film yang masuk dalam kategori 'gini-gini'.Ternyata […]
    • Review: Peter Rabbit (2018) Bikin Penonton Doain Tokoh Utama Celaka 11 Maret 2018
      Biasanya film kan dikemas sedemikian rupa biar penonton bersimpati pada tokoh utamanya, ya. Biar kalo tokoh utamanya dalam posisi terancam, penonton deg-degan, berdoa biar selamat sampai akhir film. Khusus untuk film ini, gue sih terus terang doain Peter Rabbit-nya cepetan mati. Digambarkan dalam film ini Peter Rabbit adalah kelinci yang sotoy, sangat iseng […]
    • Sensasi Nonton Pengabdi Setan Bareng Emak-Emak Setan 8 Oktober 2017
      Sejak lama, Joko Anwar terobsesi dengan film horor. Menurutnya, horor adalah genre film yang paling jujur. Tujuannya ya nakut-nakutin penonton, bukannya mau ceramah, motivasi, atau menyisipkan pesan moral. Di kesempatan berbeda, gue juga pernah denger dia bilang, secara komersial film horor lebih berpotensi laku. Alasannya sederhana: karena takut, orang cend […]
    • Parodi Film: Jailangkung (2017) 26 Juni 2017
      SPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTFerdi (Lukman Sardi) diketemukan nggak sadar di sebuah rumah terpencil oleh pilot pesawat carterannya. Dia dirawat di ICU, tapi dokter nggak bisa menemukan apa penyakitnya.Anak Ferdi, Bella (Amanda Rawles), tentu kepikiran. Dia minta bantuan Rama (Jefri Nichol), seorang... yah, dib […]
    • Parodi Film: Suicide Squad (2016) 14 Agustus 2016
      SPOILER ALERT!Jangan baca kalo masih ingin penasaran dengan cerita film ini.SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!Amanda Waller, pejabat intelijen, presentasi di depan sekumpulan pejabat militer. AMANDA: “Kita beruntung Superman yang barusan ini, yang sekarang lagi mati suri dan dipastikan akan hidup kembali dalam film berikut karena demikianlah pakem da […]
    • Parodi Film: Bangkit (2016) 12 Agustus 2016
      SPOILER ALERT!Jangan baca kalo masih ingin penasaran dengan cerita film ini.SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!Ada bus kejeblos jurang. Muncul sang pahlawan, anggota Basarnas, bernama Addri. Ya, dengan 2 huruf D. Addri: “Saya akan menyelamatkan Anda semua, satu per satu. Kita mulai dari wanita dan anak-anak!”Beberapa menit kemudian, hampir semua penum […]
    • Kalo Fans Turun Tangan Ngeberesin Trailer Film 15 Mei 2016
      Hari gini, jadi produsen film 'mainstream' itu semakin nggak gampang. Masalahnya, software pembuat film makin gampang didapat, film bisa dibikin secara "rumahan" dan akibatnya: penonton makin kritis. Sepuluh tahun lalu, saat produsen film melempar trailer promosi ke pasar, kemungkinannya cuma dua: orang tertarik atau nggak tertarik. Sekar […]
    • Review: My Stupid Boss (2016) 14 Mei 2016
      Nggak kerasa udah 7 tahun sejak gue pertama kali bikin review tentang buku My Stupid Boss. Dalam kurun waktu tersebut bukunya udah masuk jilid 5, plus sempet ada antologi cerita boss-boss bego kiriman pembaca juga, dan… difilmkan!Kemarin gue kembali beruntung dapet kesempatan nonton premiere film My Stupid Boss the Movie, sebagai (kalo nggak salah) premiere […]
  • RSS Bisnis bareng Ida Yuk!

    • Diamond Conference Tokyo 2018: Part 1-- Keberangkatan! 8 Mei 2018
      [Senin, 17 April 2018] Jalan-jalan Conference kali ini rasa excitednya agak sedikit beda karenaaaaa ini adalah DIAMOND CONFERENCE PERTAMA AKU... 😍😍😍😍😍😍 Selama ini aku pergi kan untuk Gold Conference, yaitu reward buat title Gold Director and up. Sedangkan seperti namanya, Diamond Conference ini adalah reward khusus buat yg titlenya Diamond and up! Selama ini […]
    • Seminar "Katakan TIDAK Pada Investasi Ilegal"-- MLM vs Money Game. 8 Mei 2018
      Diamond and up Oriflame bersama Top Management Oriflame foto bareng. Tanggal 2 Mei 2017 tahun lalu, sebagai salah satu Diamond Director-nya Oriflame, aku dapat sebuah undangan eksklusif untuk hadir ke acara Seminar Nasional yg diselenggarakan oleh Satuan Tugas Waspada Investasi dan APLI (Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia). Judul seminar ini adalah-- KATA […]
    • Sewa Modem Wifi Buat Ke jepang? Di HIS Travel Aja! 26 April 2018
      Ceritanyaaa.. aku dan agung baru aja pulang dari Diamond Conferencenya Oriflame di Tokyo.. Ada banyaaaaak banget yg pengen aku ceritain. Satu-satu deh ya nanti aku posting. Tapi aku mau mulai dari soal INTERNETAN selama di sana.. ahahahaha.. PENTING iniii! Untuk keperluan internetan di tokyo kemarin aku dan agung sempet galau. Mau pakai roaming kartu atau se […]
    • Penyebab Kapas Ini Kotor Adalah... 17 Maret 2018
      Kapas ini bekas aku bersihin muka tadi pagi bangun tidur.. Lhoo kok kotor?Emangnya gak bersihin muka pas tidur?Bersihin dong. Tuntas malahan dengan 2+1 langkah.Lalu pakai serum dan krim malam. Kok masih kotor? Naaah ini diaaaa.. Tahukah teman2 kalau kulit wajah kita itu saat malam hari salah satu tugasnya bekerja melakukan sekresi atau pembersihan?Jadi krim […]
    • Join Oriflame Hanya Sebagai Pemakai? Boleh! 16 Maret 2018
      Aku baru mendaftarkan seseorang yg bilang mau join oriflame karena mau jadi pemakai..Dengan senang hatiiii tentunyaaa aku daftarkan..😍😍😍 Mbak ini bilang kalau udah menghubungi beberapa orang ingin daftar oriflame tapi gak direspon karena dia hanya ingin jadi pemakai aja.. Lhoooooo.. Teman2 oriflamers..Member oriflame itu kan ada 3 tipe jenisnya--Ada yg join […]
    • Semua karena AKU MAU 16 Maret 2018
      Lihat deh foto ini..Foto rafi lagi asyik mainan keranjang orderan di Oriflame Bulungan dulu sebelum pindah ke Oriflame Sudirman sekarang. Tanggal 1 Juli 2010.Jam 00.20 tengah malam. Iya, itu aku posting langsung setelah aku foto.Dan jamnya gak salah.Jam setengah satu pagi. Hah?Masih di oriflame? IyaNgapain? Beresin tupo. Jadi ya teman2, jaman sistem belum se […]
    • Kerja Keras yang Penuh Kepastian... Aku Suka! 15 Maret 2018
      Dari club SBN--Simple Biznet, ada 3 orang yg lolos challenge umroh/uang tunai 40 juta.Sedangkan dari konsultan oriflame se-indonesia raya konon ada total sekitar 60-an orang yg dapat hadiah challenge ini. Inilah yg aku suka dari oriflame.Level, title, cash award, maupun hadiah challengenya gak pernah dibatasin jumlahnya! Mau berapapun jumlah orang yg lolos k […]
    • Tendercare Oriflame: Si Kecil Ajaib 14 Maret 2018
      Buat teman-teman yg pemakai oriflame, atau at least pernah liat katalognya, mungkin pernah dengar atau justru pemakai setia si Tender Care ini.Bentuknya keciiil, mungiiil, lha cuma 15 ml doang.. Eh tapi kecil-kecil gini khasiatnya luar biasa.Tender Care ini produk klasiknya oriflame, termasuk salah satu produk awal saat oriflame pertama kali mulai dagang di […]
    • Sharing di Dynamics Sunday Party 4 Maret 2018
      Agenda hari minggu ini berbagi ilmu dan sharing di acara bulanannya teh inett Inette Indri-- DSP, Dymamics Sunday Party! Yeaaaaay! Teh inet udah lama bilang kalau pengen undang aku kasih sharing di grupnya. Aku dengan senang hari meng-iya-kan. Karena buatku berbagi ilmu gak pernah rugi. Jadilah kebetulan wiken ini aku ke Bandung untuk kasih kelas buat team b […]
    • Kelas Bandung, Sabtu 3 Maret 2018 3 Maret 2018
      Ah senaaaang ketemuan lagi sama team bandungku tersayang..😍😍😍😍😍 Hari ini aku bawain materi tentang mengelola semangat.Ini materi sederhana tapi sangat amat POWERFULL.Karena betul2 bikin ngaca sama diri sendiri.Yang banyak dibahas adalah soal MINDSET. Kelas kali ini Agung Nugroho juga ikut berbagi ilmu..Bapak Diamond kasih kelas juga lhooo..😍😍😍😍😍 Seneng […]
  • Iklan
%d blogger menyukai ini: