Rice Bowl-Plangi, The Not-So-Fast One


Beberapa waktu yang lalu gue pernah nulis tentang Rice Bowl Mega Mal Pluit. Resto ini gue sebut sebagai restoran tercepat yang pernah gue datengin, dengan rekor minuman keluar dalam waktu 20 detik saja, dan seluruh pesanan komplit disajikan dalam 1 menit 15 detik. Perlu dicatat waktu itu resto dalam keadaan penuh sesak sampe ada beberapa orang ngantri di depan pintu. Kunjungan selanjutnya nggak secepet itu, tapi masih cukup cepet jugalah, karena seluruh menu lengkap tersaji sebelum menit ke 3. Ida juga pernah ke sana ber-14; rombongan ibu-ibu guru Kinderland, dan hanya ada 1 menu yang telat nongol.

Malam ini, sehabis fitness selama 2 jam, gue dan Ida kelaparan sampe hampir makan orang. Ida langsung teringat pada Rice Bowl, yang sekarang udah punya outlet di Plangi. Tentunya dengan harapan resto ini secepat rekannya di Mega Mal Pluit dalam mengatasi kelaparan kami.

Kami sampe sana udah hampir jam 9, kondisi resto nggak terlalu penuh. Kalo yang di MM Pluit sanggup menyajikan makanan dalam tempo 1 menitan dengan kondisi “rush-hour”, nggak salah dong kalo kami berharap resto ini mampu mengatasi kelaparan kami dalam waktu yang kurang lebih sama – kalo bisa malah lebih cepet. Tapi apa daya, malang tak dapat ditolak sementara soal keuntungan nggak terlalu kami pikirkan lagi.

Firasat buruk pertama muncul waktu kami baru memasuki area resto dan melihat tangan-tangan teracung dari beberapa meja tanpa ada satupun waiter yang menanggapi. Apesnya lagi, kami memilih sebuah meja yang kebetulan bersebelahan dengan pasangan mas-mas dan mbak-mbak yang kayaknya belum pernah makan di Rice Bowl – atau mungkin resto oriental manapun. Menu setebal kurang lebih 10 halaman itu abis diabsenin sama mereka, ditanyain satu-satu “yang ini makanannya kayak apa” dan “yang itu kayak apa”. Padahal menu itu udah memuat keterangan singkat di bawah nama setiap makanan PLUS beberapa foto.

Mas waiter berbaju kuning nampak senewen meladeni pasangan tersebut, sambil sesekali melirik ke arah gue dan ngomong, “sebentar ya mas…” Oke, gue mah orangnya sabar. Cuma cacing2 di perut gue ini aja yang suka rada panasan. Saking lamanya nunggu gue sampe bisa mengamati jenis2 seragam waiter yang terdapat di resto Rice Bowl. Yang berbaju kuning, seperti mas-mas yang meladeni meja sebelah, kayaknya adalah petugas penerima order. Mungkin di luar yang berbaju kuning dilarang melakukan hal tersebut. Sialnya, sejauh mata memandang cuma dia itu doang yang pake baju kuning. Selain itu ada yang berbaju biru plus berdasi. Kayaknya yang ini manager. Dia nampak lagi sibuk beres2 meja, mungkin memberikan teladan bagi karyawan lainnya. Yang jumlahnya rada banyak adalah yang berbaju oranye. Yang ini tugasnya all-in: menghidangkan makanan, membersihkan meja, dan mengantar bill – kecuali menerima order. Yang terakhir adalah yang berbaju putih dengan name-tag bertuliskan “trainee”. Yang ini cuma ada satu orang dan kelihatannya spesialis mengerjakan tugas-tugas “berbahaya” seperti menghadapi pengunjung yang udah nyaris ngamuk karena kelamaan nunggu. Dialah yang akhirnya menerima pesanan kami setelah mas berbaju kuning melambai padanya, mengirimkan kode ‘S.O.S’ dengan ekspresi panik.

Setelah mas berbaju putih mencatat seluruh pesanan, stopwatch dinyalakan.

Rekor Rice Bowl MM-Pluit yang mengeluarkan minuman dalam tempo 20 detik tetap bertahan.

Menit pertama lewat, belum ada apa-apa.

Menit ke dua lewat, belum ada apa-apa.

Dua menit 18 detik, minuman air botolan dan teh tawar keluar.

Tiga menit, gue masih kelaparan.

Empat menit, belum.

Enam menit, masih bengong. “Kalo di sini 15 menit kali”, kata Ida mulai pesimis.

Delapan menit 20 detik, makanan Ida keluar.

Sepuluh menit lewat beberapa detik, menu sayuran keluar.

Sebelas menit, gue serasa ingin makan sedotan.

Tiga belas menit, masih cengo.

Lima belas menit, ramalan Ida meleset.

Tujuh belas menit, gue manggil salah satu waiter. “Mas, saya tadi pesen nasi goreng ayam dan baby cabbage, tolong dicek ke dapur dong..”

Sembilan belas menit lewat 25 detik, nasi goreng gue keluar.

Dua puluh menit lewat, baby cabbage keluar. Alhamdulillah…!

Memang umumnya waktu penyajian 20 menit nggak terlalu parah amat sih, tapi ini kan Rice Bowl gitu loh. Gue saranin mending Rice Bowl Plangi janjian sama Rice Bowl MM Pluit untuk sedikit memperlambat waktu sajinya, biar nggak terlalu kebanting, gitu.

Kejutan terakhir terjadi waktu minta bill. Seorang mas berbaju oranye muncul menyodorkan map kulit berisi bill, gue taro duit di dalamnya, dan pas gue sodorin balik dianya lagi sibuk main mata dan dadah-dadah dengan… mbak-mbak penjaga toko seberang! Dia baru sadar waktu temennya ada yang neriakin, “Whoyy… bengong aja lo, tuh orang mau bayar!”

Berhubung uang gue melebihi angka di bon, tentunya ada kembalian.
Kembalian datang dianter sama mas baju oranye yang tadi main mata, dalam map kulit. Map kulit gue buka, dan baruuu… aja duit kembalian mau gue simpen di dompet, si mas muncul lagi… “Eh anu pak, maaf nih, kembaliannya ketuker dengan meja sebelah…” (yaitu meja berisi pasangan pengabsen menu yang tadi). Dia ambil uang kembalian gue lantas dia bawa ke meja sebelah. Sebagai gantinya, uang kembalian meja sebelah dia kasih ke gue. Selintas tadi gue liat uang yang dia ambil dari tempat gue adalah selembar sepuluh ribuan dan beberapa keping recehan. Gue cek lagi bonnya. Kembalian yang seharusnya gue terima adalah 10.200. Gue itung kembalian yang dia bawa dari meja sebelah, berupa 1 lembar 5 ribuan, 2 lembar seribuan dan beberapa keping recehan, berjumlah 9.200.

Wah korslet nih, pikir gue.
Bener aja. Nggak lama kemudian, terdengar mas-mas di meja sebelah protes karena uang kembalian yang diterimanya kelebihan seribu perak (rupanya walaupun kalo mesen makanan lama, kejujurannya patut diacungi jempol). Masalahnya, kembalian yang dia terima dalam pecahan 10 ribuan (yang mana berasal dari meja gue) padahal seharusnya dia cuma nerima 9 ribu. Sampe sini dapat kita simpulkan bersama bahwa ternyata dari tadi uang kembaliannya udah bener, tapi si mas baju oranyenya aja yang belibet sendiri sampe akhirnya ketuker!

Sejenak mas baju oranye nampak kebingungan mencari solusi untuk permasalahan pelik ini. Setelah beberapa saat garuk-garuk kepala akhirnya dia menemukan jalan keluar yang cukup jenial yaitu… minta uang seribu perak kepada mas meja sebelah untuk diberikan kepada gue…

Tanpa banyak komentar, tu duit kembalian gue masukin ke dompet sambil bilang sama Ida, “Kali ini, kita nggak usah ngasih tip ya…”

Oh iya, btw, judul review tentang Rice Bowl yang dulu udah gue revisi. Silakan cek di sini.

Iklan
Tinggalkan komentar

8 Komentar

  1. bdarma said: tapi rasa rice bowl-nya sendiri gimana ?

    yang jelas jauh lebih enak dari chow king War…! 🙂

    Suka

    Balas
  2. tapi rasa rice bowl-nya sendiri gimana ?

    Suka

    Balas
  3. *ktawain yang masalah belibet ketuker kembalian*ada2 aja tu orang!!!

    Suka

    Balas
  4. Hehehehe… sampe pake timer! Kalau lagi mepet ya mendingan stuck to restoran siap saji aja Gung… Tapi makasih juga, jadinya ada tulisan perbandingan ini =)

    Suka

    Balas
  5. ke RM Padang aja, bln pesen dah dateang makanan saabrek2

    Suka

    Balas
  6. alamak …20menit ?kalo’ 20 menit siy mendingan ke hokben atau mc’d dong, ngantri langsung dapet makanannyakalo’ aku cacingnya udah sekarat tuh, bisa2 mas2 pelayannya aku makan beneran :p

    Suka

    Balas
  7. :))menejernya ngapain aja sih, bukannya ngebantuin..mlh sibuk beberes meja.

    Suka

    Balas
  8. mbot said: kembaliannya ketuker dengan meja sebelah…”

    huehehehe… untung nggak ‘mejanya ketuker ama kembalian sebelah…’ huehehehe… 🙂

    Suka

    Balas

Ada komentar?

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: