Bubur Tanjung, bubur ayam terenak no. 3 di Indonesia


hayooo... siapa yang ngiler? Klik di sini kalo mau liat lebih jelas
Bubur Tanjung, lagi dibubuhi sambel oncom.

Ini dia, as promised, review tentang bubur ayam terenak ke tiga di Indonesia. Review tentang bubur ayam Mang Oyo sebagai runner-up bisa dibaca di sini, sementara Bubur Barito sebagai juaranya bisa dibaca di sini. Btw, kalo beberapa tahun yang lalu elo pernah nerima forwardan e-mail tentang 3 bubur ayam terenak di Indonesia, itu tulisan gue, hehehe… gue kirim ke salah satu milis, habis itu biasa deh, berkembang biak sampe akhirnya balik ke gue sendiri.

Buat yang nggak terlalu familiar dengan daerah menteng, mungkin rada ribet juga untuk nemuin lokasi mangkalnya Bubur Tanjung. Cuma biar gampang gini aja deh: kalo elo dari arah Kuningan, lurus lewat HOS Cokroaminoto, belok kanan di perempatan yang ada Fuji Image Plaza, abis itu langsung belok kiri di belokan ke kiri yang pertama. Dari situ luruuussss… aja, ngelewatin 2 perempatan kecil, nah lo akan ngeliat kerumunan orang di sebelah kanan jalan. Itulah dia, Bubur Tanjung, bubur terenak nomer 3 di Indonesia. Dia mangkal di depan sebuah rumah putih yang konon kabarnya miik Bambang Tri Hatmodjo, putra mantan presiden Suharto. Cuma mengenai kebenarannya, gue belum pernah ngecek tuh. Mungkin ada yang bersedia keisengan nanya?

Update bulan Oktober 2015: 

Karena warga sekitar merasa terganggu oleh ulah para pengunjung Bubur Tanjung yang suka berisik, akhirnya Bubur Tanjung sekarang pindah lokasi ke halaman mesjid Cut Mutiah. Tempatnya malah lebih nyaman karena ada mejanya, dan ada alternatif jajanan lain di luar bubur ayam 

Lucunya, yang pertama kali mengenalkan gue sama bubur ini justru Ventha,temen gue yang tinggalnya di Sunter. Rupanya dulu waktu sekolah di SD-SMP Cikini, dia sering mampir makan di sini dan ketagihan sampe tua, sehingga bela-belain dateng dari Sunter cuma buat makan bubur ini doang. Jam beroperasinya memang pas buat orang-orang yang nyari sarapan sebelum berangkat ngantor / sekolah, yaitu sejak jam 5.30 pagi sampe sekitar jam 9.00.

Liat nih antriannya di posisi jam 1/2 8! Klik di sini kalo mau liat lebih jelas.
Deretan mobil pengunjung
Anak Harley juga demen makan bubur, klik di sini kalo mau liat lebih jelas
Rombongan pengunjung ber-Harley:
motor boleh sangar,
tapi ma’emnya tetep bubur
biar nggak atit peyut.

Tapi gue sarankan, kalo lo berminat nyoba, usahakan dateng sebelum jam 7.00 deh. Sesudah itu ngantrinya rusuh banget, dan saking lamanya nunggu lo akan mengalami fase-fase sbb: laparsenewen“mana sih buburnya?”kesel jengkel pingin ngamuk ilang lapernya. Ini belum termasuk kalo lagi ada pesenan massal lho! Sebab saking kondangnya ni bubur, kadang suka muncul mas-mas bermobil kijang dan pesen, “Bang, beli buburnya lima puluh, bungkus ya!” Biasanya yang model begini ini untuk konsumsi orang kantoran atau arisan. Nggak heran, walaupun hanya peringkat 3 di Indonesia, soal rasa dia memang di atas tukang-tukang bubur biasa. Selain buburnya juga gurih, ayam gorengnya juga punya aroma khas yang sedap banget. Belum lagi sambel oncomnya yang lain daripada yang lain. Berdasarkan riset gue di dunia perbuburayaman selama ini, kayaknya faktor sambel memang nggak bisa dipandang remeh. Buktinya dari ketiga tukang bubur papan atas yang pernah gue review, masing-masing punya racikan sambel yang beda-beda, yang menambah keunikan rasa masing-masing.

Tampang-tampang pengunjung yang kelaparan, klik di sini kalo mau liat lebih jelas.
Kalo datengnya kesiangan,
ngantrinya harus intensif kaya gini

Rahasia di balik waktu tunggu yang demikian panjang terletak pada proses peracikannya. Jadi, langkah-langkah yang dilakukan sama si tukang bubur adalah:

  1. Menyendok bubur ke dalam mangkok. Gue perhatiin, volume bubur yang dituang selalu 1 1/4 centong. Luar biasa memang akurasinya.
  2. Menaburkan lada.
  3. Meremas dan menaburkan krupuk kecil-kecil putih yang pinggirnya warna-warni.
  4. Menaburkan entah apa, warnanya coklat-coklat kecil mirip tongcai tapi bukan.
  5. Menaburkan rajangan seledri
  6. Menaburkan bawang goreng.
  7. Menyuir-nyuir ayam goreng, langsung dari sepotong besar dada / paha ayam (sesuai permintaan, minta dada atau paha. bahkan bisa minta kulitnya doang.)
  8. Memotong-motong dan menaburkan ati-ampela (optional, sesuai permintaan)
Pak Haji pemilik bubur, klik di sini kalo mau liat lebih jelas
Pak Haji lagi sibuk melayani pembeli

Yang gue bingung, udah bertahun-tahun dia jualan, kok ya nggak pernah kepikiran melakukan seperti tukang-tukang bubur peringkat 1 dan 2, yaitu segala komponen yang akan ditabur-taburkan udah disiapkan sebelumnya. Bubur Barito, misalnya, potongan ayamnya udah dia siapin dalam satu baskom besar, tinggal sendok aja. Mang Oyo bahkan lebih ekstrim lagi, seluruh komponennya udah dipak dalam kantong plastik kecil2, tinggal buka plastiknya, beres. Mungkin menurut Pak Haji pemiliknya, rasa ayam yang udah disuir sebelumnya kurang sedap dibandingkan dengan yang disuir langsung (kali…). FYI, Pak Haji pemilik bubur ini berhasil menunaikan ibadah haji dari hasil berjualan bubur plus jual mobil. Hebatnya, sepulang naik haji, jualannya tambah maju dan dia berhasil beli mobil lagi! Walaupun jualannya udah sukses, dia tetep nggak melupakan orang-orang di sekitarnya. Setiap pagi dia nyediain beberapa mangkok bubur gratis buat para ibu-ibu penyapu jalan (Di daerah situ memang penyapu jalannya ibu-ibu semua). Selain itu dia juga menerapkan peraturan tegas kepada para tukang jualan yang ikutan mengais rejeki di sekitarnya (ada tukang majalah, tukang semir, dan tukang kue cubit) DILARANG MENERIMA UANG PARKIR DARI PENGUNJUNG. Tukang semir yang bantuin markirin mobil menolak pemberian gue dengan tampang cemas, “Jangan, kita di sini nggak boleh minta duit, nanti dimarahin sama Pak Haji…”

Harga seporsi bubur di sini 6 ribu perak 12 ribu perak (harga 2010) 18 ribu perak (harga 2015), tanpa ati-ampela. Nggak tau harga ati-ampelanya berapa, sebab tadi waktu gue dateng ati-ampelanya udah abis. Minuman yang tersedia hanya teh botol dan air kemasan.

Iklan
Pos Sebelumnya
Tinggalkan komentar

22 Komentar

  1. menhariq said: waduh.. ada yang baru replyoh iya gung.. diupdate lagi tuh harganya.. 😛

    udah diupdate, sekarang jadi 12 ribu per porsi

    Suka

    Balas
  1. Behind the scene: Game di Halal Bihalal MP | (new) Mbot's HQ

Ada komentar?

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: