Penemuan hari ini… cara ngepel praktis ekonomis bebas sakit pinggang


Problem:

  1. Rumah udah hampir 2 minggu nggak dipel karena ibu gue lagi ke luar kota. Biasanya ibu gue yang mengkoordinasikan kedatangan tukang pel hariannya.
  2. Lantainya jadi dekil dan gue jadi nggak bisa nyeker ke mana2 lagi karena debu2nya jadi nempel di kaki dan kaki jadi item.
  3. Minggu lalu gue numpahin segelas nescafe ice di lantai berdebu itu, membentuk cetakan mirip amuba raksasa yang nampak sangat menjijikkan.
  4. Gue males ngepel / nyapu atau apapun yang berkaitan dengan keduanya. Cuci piring masih ada unsur fun-nya lah, bisa main air, nggak kepanasan. Nyetrika itu panas, tapi kan tidak mengharuskan elo mondar-mandir keliling rumah dalam posisi yang kurang berwibawa dan kurang dianjurkan secara ergonomi. Saat2 ngepel adalah saat di mana tiba-tiba aja rumah gue yang sempit ini mendadak jadi terasa gedeeee….. banget. Jadi next time lo timbul iri hati dan dengki melihat rumah orang lain yang keliatan lebih gedongan, lebih gede, lebih luas, buru2lah ngepel. Lo akan mensyukuri 2 hal: (a) bahwa rumah lo ternyata cukup gede untuk dipel; dan (b) rumah lo nggak segede rumah orang yang lo iri-in tadi.

Hari ini, gue iseng sendiri di rumah karena Ida lagi pulang ke Bandung jadi gue khilangan makna hidup dan nggak tau musti ngapain. Gue pandangi amuba raksasa itu terkapar di lantai dengan benci, sambil berpikir “gue harus melakukan sesuatu nih”. Eh btw, nescafe ice tumpah dan yang menghasilkan cetakan amuba itu adalah nescafe ice terakhir di tengah malam, mau beli lagi juga udah nggak ada toko buka -traumatis bila diingat.

Akhirnya gue pikir2, esensinya ngepel itu kan cuma ngebasuh lantai dengan air sabun supaya kotoran terangkat, right? The main idea is how to make water runs through the floor.
So that’s exactly what I’m going to do.

Pertama; gue bikin ramuan air dan sabun pel seperti biasa. Taburin pake remukan kapur anti semut dan kecoa.

Kedua; gue tenteng ember tersebut ke tengah rumah.

Ketiga; byuurrr.. gue tuang air sabunnya.

Keempat; dengan menggunakan serokan karet (tau kan? Yang bentuknya kayak wiper raksasa itu) gue seret air yang tergenang ke arah pintu. Sret… sret… beres!

Kelima; gue rapihin genangan2 air yang tersisa dengan pel spons. Selesai.

Praktis kan? Memang hasilnya nggak sesempurna kalo pake disapu dulu, tapi yang jelas amubanya enyah, dan hei, bukankah kesempurnaan hanya milik Allah?

[sharing kecil2an di hari minggu yang kurang kerjaan]

Iklan
Tinggalkan komentar

22 Komentar

  1. Saia mah mau komen kalimat ini:
    “Hari ini, gue iseng sendiri di rumah karena Ida lagi pulang ke Bandung jadi gue khilangan makna hidup dan nggak tau musti ngapain.”
    manitz sekaliiii…

    Disukai oleh 1 orang

    Balas

Ada komentar?

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: